Saturday, 17 May 2014

Martial art is for everyone

Sembari menunggu Big Match Barca vs Atm, gue sempatin nulis blog dulu ahhh...

"Apalagi itu, mas???" Jawab seorang ibu2 padaku. "Saya perempuan, mas... masak diajarin beladiri??" Sahutnya lagi saat jawabku hampir dibibir. Yah itulah fakta yang ada di lingkunganku, mungkin juga di tempat anda. Kaum perempuan masih terlalu banyak yang menganggap beladiri itu hanya untuk kaum lelaki. Huh..tak heran mengapa banyak pelecehan seksual di jalanan (pikirku yang meracau). Coba tonton berita di media massa! Berapa banyak korban wanita yang diperkosa, tak hanya itu, berapa pula banyak anak-anak yang menjadi korban para pedofilia??!! So, apakah kita akan mengumpat zaman yang sudah carut marut ini?? Aku pikir itu hanya opini manusia ditengah padang sahara.

Beladiri, saat mendengarnya saja, wanita juga ibu2 hanya berpikir "tak perlu" atau jawaban yang lebih melegakan "wah, capek itu". Memang beladiri untuk wanita atau anak2 itu masih tabu..yah memang itu wajar aku pun memakluminya. Gerakan yang banyak dipertontonkan baik di movie atau TV bahkan demo para ahli beladiri berunsur kekuatan-power! Dan hanya laki2 yang bs melakukannya. 

Berita2 itu seperti tusukan jarum beribu2 tusukan ke dalam hati. Sungguh miris bila sang korban adalah keluargaku atau saudaraku atau temanku. Panggilan itu menjadi dasar aku mulai mengajarkan ilmu beladiri untuk ibu2 dan mbak2. Agar mereka bisa terjaga di zaman yang sungguh bahaya ini. Gerakan sederhana yang telah kupelajari di aikido dan jujitsu.
Alhamdulillah sudah beberapa ibu2 dan juga mbak2 yang saya latih, mulai dari melepas pegangan tangan hingga todongan pisau, juga bekal pengetahuan untuk menghadapi pemerkosaan. Ada testimoni dari seorang peserta bahwa dirinya menjadi tenang karena tahu apa yang akan diperbuat saat kondisi seperti itu. Alhamdulillah..

Inti pengajaran yang ada disini adalah "Hit and Run". Saya tidak mengajarkan bagaimana pukulan serta tendangan seperti ilmu yang saya dapatkan di Thifan, beladiri praktis dan jujitsu. Apa alasannya? Karena anatomi tubuh mereka (wanita) berbeda dengan laki-laki. Saat perempuan berlatih karate atau taekwondo atau beladiri lainnya maka anatomi tubuh mereka jadi berubah. Yap fitroh mereka berubah..badan menjadi keras dan "okol". Oleh sebab itu, teknik yang dipakai adalah "low power with high impact" yaitu dengan tenaga yang kecil bisa membuat kesakitan yang besar.

Contoh yang bisa saya sampaikan disini adalah gerakan untuk melepas pegangan dari seseorang lawan. Nah gerakan tersebut tidak dengan menarik tangan sekuat-kuatnya seperti reflek kebanyakan korban, tetapi dengan gerakan memutar pergelangan. Lawan sekuat apapun dapat dilepas dengan cara ini. Bahkan bila pegangan si penyerang sangat kuat, ini bisa membuat cedera yang serius pada si penyerang itu sendiri. Menarik bukan? ^_^

"Every part of your body is weapon"

Pagi ini saya pun melatih 15 orang ibu2 dan mbak2 di Pare, Kab. Kediri. Alhamdulillah mereka antusias dan dapat menguasai materi yang diberikan. Meski baru sekali pertemuan, tapi bekal ini cukup untuk menghadapi perampok. Hanya saja pengulangan adalah kunci suksesnya. Pengulangan materi jadi poin penting untuk menanamkan reflek dalam otak bawah sadar. Bruce Lee menyampaikan bahwa seseorang yang berlatih 1 tendangan dan diulang sebanyak 1000 kali lebih ia takuti daripada seseorang yang berlatih 1000 tendangan dan hanya 1 kali diulang.

Diakhir tulisan ini, saya berharap banyak perempuan yang mulai berlatih beladiri. Karena dari kalianlah muncul benih2 pejuang bangsa, pemikir hebat, dan negarawan yang disegani.

Keep studying-keep training-keep teaching

No comments:

Post a Comment